Langsung ke konten utama

Singapure dan Segenap Gejolak Jiwa (Bag. I)

How to start this?
Wow. My heart melts just to write the first line. And here comes the tears I hold until I finish this sentence. Full stop. Tears, please stop.

Alright. First of all, I would like to say Alhamdulillah ya Allah!!! This Singapore trip is beyooooonnddd my traveling list. Oh, I forgot to say that I'm a very nationalist one in spending money for holiday. NEVER WANT TO GO ABROAD BEFORE I FINISH EVERY LAND AND WATER IN MY OWN COUNTRY!!! Hehehe

Soooooo, ke 'Singapure' (kata encang) adalah bukan tempat dambaan saya berkelana. Sekalipun luar negri yang saya damba-dambakan selama ini ya Mekah dan Afrika saja. Singapore??? What's in there??? Mungkin karena saya beach oriented kalau mau ngetrip, jadi ya saya kira Singapure gak akan punya pantai-pantai seindah Indonesia, dong? Hadeh, I was too soon to judge.

Mungkin cerita ini bisa dimulai dari ulang tahun saya di Januari lalu. Ketika sang adik menghadiahi kakak tercantiknya sebuah "purse". Dan saat hari bahagia saya tiba, ada beberapa kado yang saya terima namun si adik merasa perlu menenangkan saya bahwa kado darinya akan diberikan. Tapi nanti, sebab benda itu belum tiba.

Keesokan harinya, di sekolah, ketika hendak bekerja menggunakan laptop, saya tak sengaja membuka dan membaca email-nya si adik. Terdapat surel pemesanan dari Lazada soal "passport purse". Wah wah, she's got a wrong gift for me, jangan-jangan neeeehh~~

Benar saja saudara. Di rumah, saya langsung mencari si adik dan hendak melabraknya. Namun sebelum saya menemukan dirinya, di atas kasur sudah ada sebuah paket. Dompet paspor yang tadi saya intip di surelnya. Benda itu telah tiba! Oh, no! Akhirnya, setelah ia sampai rumah, barulah saya labrak ia.
"Lo ngapain beli paspor purse?" Saya memulai interogasi.

"Hah? Passport purse?" Adik saya memang gede-gede dungu.

"Dompet paspor. Lo beli di Lazada. Buat apaan??? Tuh udah sampe barangnye." Saya menunjuk benda itu dengan bulatan mata saya.

"Haaaahh??? Passpoooorr???? Allahu Akbar. Kakaaaaakk!!! Maksut gue itu, gue mau kasih lo dompet buat kondangaaaannn!!! Kok jadi paspor siiihhh???" Behahahahaha si dungu. Dia salah beli kan, ternyata. Padahal dia sudah memilah-milih yang cocok untuk saya sebelum membeli katanya.

"Dih, si begooooo... Hahahaha. Kondangan, wasai-ngaaaann?! Kondangan ke Bangkok ntar gua." Saya mulai mengolok-oloknya.

"Yaaa, maaf ya kak. Ini kesalahan terbesar gue nih ke elo. Maaf banget yaaaa... Siapa tau ntar lo ke luar negri kan... Gue doain!!!" Subhanallove. Adik saya meski dungu tapi bijak. Luar biasa.

Akhirnya malam itu tiba. Ketika saya ada jadwal ngajar bersama Ibu Japanis. Ia sudah menjadi murid saya selama satu tahun lebih. Hmm, hampir dua tahun lah. Beliau baik sekali. Meski di darahnya mengalir deras darah bekas penjajah negeri kita, tapi kecintaannya terhadap Indonesia jauh mengalahkan saya!

Ibu Uki. Begitu saya memanggilnya. Blio seorang penari tradisional Indonesia yang berbakat dan inovatif. Blio hapal beberapa tarian dari beberapa daerah. Darinya, saya belajar tentang macam tarian dari Sumatera hingga Bali. Terlebih tentang penghargaan terhadap waktu dan kebebasan berfikir. Ibu Uki adalah sahabat yang baik dan berwawasan luas. Blio pun wanita anti-mainstream! Ketika kebanyakan wanita suka shopping baju, tas, segala fancy things lainnya, Bu Uki justru lebih tertarik kepada alat listrik dan robotics!!! Apalagi kalau sudah ngobrol tentang sejarah Jepang dan Indonesia. Haduh, sukak sekali! Saya senang jika sudah ngobrol ngalor-ngidul bersamanya. Oh, blio juga pintar berboso jowo!!! Kewren lah si Ibu mah... Tapi perlu dicatat, blio itu Japanis. Tulen.

"Biya san, saya mau ikut Maker Faire. Di Singapore. Saya mau ajak Biya san, Biya san mau? Jadi biar bisa gantian beli makan." Begitulah pinangan blio saat meminta saya ikut acara yang telah saya hadiri itu.
Pada saat itu saya belum paham. Jadi saya bertanya lagi. "Maksutnya gantian beli makan, Bu? Maker Faire apa ya, Bu?"

Maker Faire ituuuuu... Hmm, kamu gugel aja lah haha. Pokoknya yang bisa saya bilang, Maker Faire itu tempatnya para geek! Ya gak semua sih. Ada orang-orang pengrajin art & craft gitu. But mostly, all the participants are technicians, engineers, scientists dan sebagainya. Oh, dan seorang guru TK nyasar di sana. Keren kan??? Wqwqwq

Bu Uki bukan engineer, bukan scientist, bukan golongan mereka lah. Persis kek aku. Orang awam yang sok ngerti kerobotikan. Tapi Bu Uki punya hobi robotics dan blio punya ide yang luar biasa. So, she and I participated this event! Ketika blio tanya soal "Biya san mau ikut?", ya how could you say no?! Lalu si Ibu menambahkan, "tapi cuma tiket dan hotel yang saya bayarkan ya, Biya san."
Wohoooo!!! Ya tetep mau laaaaahhh~~

Eits, jangan bahagia dulu. Saya perlu tau apa yang akan kami buat nanti. Bu Uki sudah ada rencana mau buat boneka seperti ini.

Kami pun sudah sempat uji coba di CFD. Namun sepertinya kurang greget. Akhirnya si Ibu bikin kostum menari untuk tarian Lenggang Nyai asal Betawi. Kostumnya gak sembarangan. Ibu menempelkan beberapa lampu LED kerlap-kerlip agar terlihat makin cantik. Dan benar saja sodarah! Kami lah peserta yang berkostum paling heboh.

***

Di judul tulisan ini, saya sebutkan "gejolak jiwa". Mengapa? Jadi begini. Ini adalah pengalaman pertama saya ke luar negeri dan tentu pertama kali membuat paspor. Ketika saya hendak eplay itu dokumen-dokumen, suasananya sedang puasa menjelang lebaran yang mana saya harus pinta-pintar merancang keuangan. Untuk ke luar negeri, kita tentu perlu modal toh? Tadinya mau e-paspor, biar bisa ke Jepang bebas visa. Tapi kan lagi-lagi saya bicara ekonomis. Ya sudah gejolak jiwa saya akhirnya ke paspor manual.

Belum lagi kenyataan bahwa tanggal keberangkatan saya adalah 22 which is tanggung bulan sedang panas-panasnya. Kau tahu, saya sampai harus bobok celengan dan merelakan tabungan lain demi punya uang saku ke negeri Merlion berada. See? Ke luar negri itu gak gampang! Belum lagi kurs yang beda. Hadeh~ gejolak jiwa yang kumahaaaa, eta~

Kemudian yang paling seru adalah ketika saya harus mengejar waktu keberangkatan pesawat!!! Subhanallah itu gejolak jiwa sudah mendidih tak karuan. Flight saya berdasarkan jadwal yaitu 17.55. Dari rumah mestinya jam 2-an. Entah mengapa waktu itu perjalanan hidup saya lamaaaaa sekali. Jadilah jalan jam 3 dari rumah. Hari itu Jumat. Kau paham lah, Jakarta pada Jumat sore akan seperti apa. Di perjalanan menumpak Damri, saya sudah sangat gelisah. Suhu badan dingin sekali. Ditambah AC Damri yang juga dingin. Dada berdebar-debar. Sudah coba hubungi Bu Uki kalau saja saya memang melewatkan pesawat itu. Sudah pula di tol bandara kala itu dan waktu sudah menunjukkan 17.40. Oh no. Can I make it?

Sesampainya Damri di terminal 2, waktu menunjukkan pukul 17.50. Wadaw!!!! Flight lima menit lagi dong... Saya langsung ngibrit bukan kepalang ke dalam ruangan keberangkatan. Ketika saya tunjukkan tiket ke petugas, ia tak bicara apa-apa. Padahal saya bertanya, "masih bisa gak, Pak?" Ia malah bungkam. Akhirnya saya menuju loket check in LionAir. Di loket, dua orang petugas sedang cek-cok. Entah repot mengurus apa. Yang satu orang sepertinya si bos, satu lainnya buruh. Tapi kemudian setelah sadar bahwa saya sedang menunggu, salah satu mereka menginstruksi (si bos), "itu, itu si ibunya (saya) di check in dulu aja."

Saya tercengang. Wadaw. Check in? Masih bisaaaaa??? Woooh... Ciyus neh~
Gejolak jiwa saya belum berhenti bergetar saat itu, sebab ketika lolos imigrasi, petugasnya katakan bahwa saya sudah melewati batas waktu boarding. Tanpa mengucap sepatah katapun, saya langsung berlari menuju gerbang pemeriksaan. Saking terbirit-biritnya, botol air minum yang saya bawa dari rumah kan wajib dikosongkan, air dibuang ke tempat sampah, dan tempat sampah masih tertutup, jadilah air dari botol tumpah-ruah ke karpet. Hehehe. Sungguh gejolak jiwa yang luar biasa. Saya sampai sujud syukur menangis haru atas keajaiban dari Allah swt sore itu. Subhanallah.

Sesampainya di Singapure, saya sungguh lega sekaligus norak. "Ya Allah, ini loh negeri yang banyak orang agung-agungkan." Untuk melewati meja imigrasi, saya harus turun ke lantai bawah dengan hall yang sangat besar. Saya sampai tercengang. Luar biasa Singapure ini loh. Kemudian bertemu Bu Uki yang sedari tadi menanti. Kami berjalan menuju stasiun MRT. Bu Uki sudah mempersiapkan kartu segala isinya. Terima kasih Ibuku.

Bisa menghabiskan waktu berhari-hari bersama Bu Uki adalah hal yang langka. Baru kali ini pula saya bepergian jauh dan lama dengan orang bukan bangsa Indonesia. Sekali lagi, Bu Uki adalah Japanis. Budaya Japanis yang paling masyhur adalah berjalan kaki. Selama di Singapure, saya yang biasa berjalan normal di Jakarta hanya dua ribuan langkah, bersama Bu Uki pula, saya memecahkan rekor jumlah langkah kaki saya sebanyak 1800-an!!! Amsyong!!! Mana ada ojek atau angkot di Spore kan? Jadilah tiap bepergian kalau tidak mengandalkan MRT atau bus, apalagi??? Ditambah jarak dari hotel ke stasiun MRT lumayan panjang. Hadeh. Sehat sekali saya selama tiga hari kemarin!

Dua hari pertama kami sibuk di Science Center, daerah Juroong, tempat Maker Faire berlangsung. Sungguh canggih nian tempat dan acaranya. Saya belum pernah melihat museum sekeren itu. Pada pembukaan acara Maker Faire, saya menguping pidato seorang Menlu Spore, Vivian Balakrishnan, "this event is not about products, but it's all about ideas." Nah, jadi tuh di acara ini, no matter what the products are, berguna apa gak, yang penting idenya. Contohnya aja ya, ada mesin slow motion. Jadi kita tinggal pasang bulu ayam bekas kemoceng gitu lah, terus nanti bulu-bulunya tertiup-itup angin yang menimbulkan efek slowmo. Gunanya apa????? Gak ada kan. Ya gitu. Sungguh acara ini memang diciptakan bagi para geek dari seluruh dunia. Ajang bagi para makhluk yang menjadikan robotics dan engineering itu hobi! Huh, keren banget lah.

Hari pertama pameran telah usai. Saya lelah sekaligus senang sekali. Malam itu, saya diajak dinner bareng rombongan Japanis grupnya Bu Uki. Mereka ramah sekali. Bahkan, karena Bu Uki mengajak saya yang berkerudung lagi ayu ini, mereka rela gak makan beybi atau hal-hal haram lain. Saya tentu jadi tak enak hati. Makanlah di mana pun yang kalian ingin. Saya baik-baik saja dengan bekal dari rumah. Saya katakan itu pada Bu Uki.

Nah, mari saya kisahkan tentang bekal yang saya bawa dari rumah. Sebelum saya pergi ke Singapure, saya sudah mewanti-wanti Encang untuk bekali rendang agar supaya saya gak bingung-bingung amat di sana kalau gak dapat makanan murah (bukan, halal, maksutnya) wekaeweka. Maklum ya, ini pertama kali saya going abroad dan sebagai jemaat bib ijik yang taat, keluarga saya takut saya keliru memilih pasangan, eh, makanan. Jadilah si Encang menepati janji. Saya dibekali rendang lumayan banyak dan keripik kentang. Di malam kedatangan saya hingga malam pertama, ternyata makanan ditanggung semua oleh Bu Uki. Waduh, gimana nasib si rendang...

Malam itu kami ber-tiga belas. Tapi untuk menghindari hal yang harom-harom, saya memesan brokoli dan berjanji akan menyantap si rendang. Di meja makan yang bundar lagi besar ini, saya suguhkan rendang dan oper tempat makan rendang saya itu keseluruh penjuru (orang) Jepang. Mereka bilang, "oishi!" Enak katanya. Syukurlah~

Lalu mereka menanyakan resep. Saya jawab "I only know there is coconut on that and the rest of it, I have no idea." Secepat kilat, si ibu Japanis langsung nyerocos pake Nihongo nyeritain kisah dibalik rendang ini. Semua tertawa, "your mum is so thoughtful..." kata mereka.

Tetiba seorang Japanis mengambil lagi sepotong rendang saya. Sambil mengunyah, dia bilang pake Nihongo ke kawannya yang lain, dan terjemahannya begini, "ini rendang mah gak pantes pake nasi, neng... Cocoknya jadi dessert!!! Manis beginiiiihhh~~~" ALAMAK!!!!


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.